Thursday, August 2, 2012

Memahami Pernikahan Dalam Ikatan Sebuah Agama

Kegagalan membangun suatu pernikahan dan keluarga kebanyakan disebabkan kurangnya pemahaman yang benar tentang hakekat pernikahan Kristen dan lemahnya konsistensi terhadap komitmen yang dibangun bersama. Komunikasi juga merupakan sebuah proses “sharing” dimana diri yang secara verbal maupun nonverbal yang dilakukan dengan baik sehingga pasangan dapat menerima dan mengerti apa yang Anda “sharing”kan kepadanya, sehingga lahirlah sebuah awal dari sebuah Cinta menuju Pernikahan.

Pemahaman dan Isi dalam Pengertian Pernikahan adalah :
  1. Pernikahan adalah sebuah ikatan;
    Di mana suami-istri atau kedua orang itu menjadi satu kesatuan dan menjadi sebuah relasi yang begitu unik dan sangat eksklusif. Landasan Alkitab yang kita gunakan adalah Efesus 5:31 yang berkata: "Sebab itu laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan istrinya, sehingga keduanya itu menjadi satu daging."
    Dari ayat ini kita bisa melihat bahwa kesatuan antara suami dan istri merupakan kesatuan yang paling intim, yang paling dekat, tidak ada lagi kesatuan yang bisa menyamai kesatuan suami dan istri ini.

  2. Pernikahan adalah suatu perjanjian;
    Artinya bahwa kedua belah pihak menyetujui untuk mengemban tanggung jawab dan tuntutan yang terkandung di dalamnya. Jadi jangan sampai seseorang memasuki pernikahan berpikir bahwa pasangannyalah yang harus melayani dia.
Efesus 5:33, "Kasihilah istrimu seperti dirimu sendiri dan istri hendaklah menghormati suaminya." Perjanjian artinya masing-masing berkata inilah tanggung jawab saya dan inilah tuntutan saya jadi masing-masing juga berusaha untuk memenuhi tanggung jawab tuntutan itu. Kadangkala kita hanya menekankan satu aspek dari perjanjian yakni jangan sampai kita bercerai atau membatalkan perjanjian dan kita lalai menekankan bagian yang satunya yakni kita harus menjaga perjanjian itu dengan cara melakasanakan tanggung jawab kita.

"Sebab itu laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan istrinya sehingga keduanya itu menjadi satu daging." Keduanya itu menjadi satu daging, pernikahan adalah suatu ikatan yang sangat eksklusif, setelah menikah kita tidak bisa memperlakukan orang sama seperti sebelum menikah, harus ada batas tidak bisa sama. Dengan kata lain kita tidak boleh mengikat diri dengan eksklusif dengan orang-orang lain lagi, hanya satu yaitu dengan istri atau suami kita.
Karakteristik pernikahan yaitu:
  1. Bahwa Institusi pernikahan tidak terlepas dari campur tangan Allah. 
     Satu rujukan yang lain institusi yang berasal dari Allah yakni pemerintahan. Roma 13:1, "Pemerintah berasalah dari Allah dan tidak ada pemerintahan yang tidak ditetapkan oleh Allah." Artinya Allah turut campur tangan dalam pembentukan, dalam penghadiran sebuah pemerintahan, demikian pulalah Allah campur tangan dalam pernikahan. Alkitab menegaskan bahwa Allah campur tangan maka dikatakan di Matius 19:6, "Karena itu apa yang telah dipersatukan oleh Allah tidak boleh diceraikan oleh manusia." Menarik sekali bahwa Allah menegaskan Dialah yang menyatukan orang untuk akhirnya tertarik kepada satu sama lain dan membangun sebuah pernikahan.

  2. Pernikahan dimaksudkan Tuhan menjadi perlambangan kekekalan di tengah-tengah ketidakekalan di dunia ini. 
    Tidak ada yang kekal dalam dunia ini, namun di antara yang tidak kekal itu Tuhan menetapkan lembaga pernikahan sebagai sesuatu yang bersifat kekal. Matius 19:19, "Barangsiapa menceraikan istrinya kecuali karena zinah, lalu kawin dengan perempuan lain dia berbuat zinah." Tuhan menganggap pernikahan itu kekal, itu sebabnya waktu kita menikah dengan orang lain, Tuhan melihat itu sebagai sebuah perzinahan.

  3. Relasi suami-istri untuk menjadi contoh konkret relasi antara Allah dan manusia. 
    Firman Tuhan di Efesus 5:25-27 berkata: "Hai suami, kasihilah istrimu sebagaimana Kristus telah mengasihi jemaat dan telah menyerahkan diri-Nya baginya. Untuk menguduskannya, sesudah Ia menyucikannya dengan memandikannya dengan air dan firman, supaya dengan demikian Ia menempatkan jemaat di hadapan diri-Nya dengan cemerlang tanpa cacat atau kerut atau yang serupa itu, tetapi supaya jemaat kudus dan tidak bercela," ini tugas suami. Tugas istri di Efesus 5:22-23, "Hai istri, tunduklah kepada suamimu seperti kepada Tuhan, karena suami adalah kepala istri sama seperti Kristus adalah kepala jemaat. Dialah yang menyelamatkan tubuh." Dengan kata lain hubungan suami-istri seyogyanya melambangkan atau mencontohkan dengan konkret hubungan antara Allah dan manusia. Dan tidak ada hubungan lain yang didisain lain untuk mencontohkan dengan konkret hubungan antara Allah dengan manusia selain dari hubungan suami-istri.
Konsep-konsep yang keliru tentang pernikahan, yaitu:
  1. Adanya anggapan bahwa pernikahan merupakan puncak dari sebuah gunung yang disebut cinta. Jadi seolah-olah setelah kita mencintai, mencintai puncaknya adalah pernikahan itu tidak salah, tapi tidak lengkap.
  2. Bahwa pernikahan adalah wadah penyaluran hasrat seksual, itu adalah efek atau keuntungan yang bisa kita raih dalam pernikahan bahwa kita bisa berhubungan seksual.
  3. Pernikahan sebagai wahana untuk memperoleh keturunan. Mempunyai keturunan atau tidak adalah hak preriogatif Tuhan, kita menikah karena kita mau mengikatkan diri kita dalam perjanjian dengan pasangan kita, punya anak atau tidak itu adalah bagian dari kehendak dan rencana Tuhan untuk hidup kita.
  4. Pernikahan sebagai pemuas dahaga manusia akan kebahagiaan. Ada orang yang beranggapan saya mau menikah karena saya nggak bahagia, saya menikah supaya saya bahagia, itu keliru. Pernikahan bukanlah pemuas kedahagaan kita akan kebahagiaan.
  5. Pernikahan dianggap sebagai asuransi kehidupan, pernikahan bukanlah sebuah peningkatan kesejahteraan hidup atau asuransi kehidupan.
Prinsip penting yang perlu kita perhatikan adalah barangsiapa memberi dia akan menerima. Banyak di antara kita yang masuk ke pernikahan mengharapkan untuk menerima dan tidak memikirkan untuk memberi. Ini adalah awal dari perpecahan dalam pernikahan. Pernikahan hanya bisa dipelihara dengan cara masing-masing memberi. Memilih pasangan hidup memang tidak terlalu mudah tapi yang lebih susah adalah mempertahankan pasangan hidup kita itu supaya tetap mencintai kita dan kita mencintai dia dan bersatu dalam pernikahan.gBu.

No comments:

Post a Comment

Post a Comment